Menu Tutup

3 Cara Mengenali Email Phising

Email Phishing adalah salah satu teknik yang paling umum digunakan oleh peretas, di mana mereka mengirim email yang berisi tautan berbahaya untuk mendapatkan informasi sensitif dari korban mereka, seperti ID pengguna dan kata sandi. Meskipun ini adalah teknik yang relatif lama, namun telah diklaim banyak korban. Saat ini, perusahaan masih menggunakan email sebagai sarana komunikasi standar, atau untuk berbagi dokumentasi. Jika karyawan Anda tidak mengetahui mode pencurian data ini, mereka berpotensi diretas, sehingga membahayakan keamanan data perusahaan. Untuk menghindari ini, orang harus mengenali seperti apa serangan itu.

1. Meminta Informasi Pribadi

Meskipun Email Phishing biasanya mengubah gaya bahasa mereka sehingga tampak seperti email yang tidak berbahaya, orang masih bisa mengenali email phishing dari isi pesan. Surel phishing umumnya mengharuskan korban mereka untuk memasukkan informasi pribadi atau mengklik tautan yang mencurigakan. Karena itu, berhati-hatilah jika Anda menerima email yang menanyakan segala jenis data pribadi, seperti ID pengguna, kata sandi, informasi kartu kredit, dan lain-lain. Hindari membalas email dan dengan hati-hati menganggap mengklik berbagai tautan yang terdapat dalam email tersebut.

2. Alamat Tidak Terlihat Asli

Peretas menipu korban mereka melalui berbagai cara, mulai dari meniru bahasa mereka sehingga terdengar otentik dan profesional, hingga menggunakan logo perusahaan dan bahkan membuat situs web dan email menyerupai perusahaan yang sah. Ketika Anda menerima email yang mencurigakan, pastikan untuk memeriksa ulang email dan situs web perusahaan yang sebenarnya, jika ada.

3. Pesan yang Bertujuan untuk Menyebabkan Panic

Email yang dikirim dari peretas biasanya bertujuan untuk mengancam atau membuat panik pembaca untuk memberi mereka informasi mereka. Mereka yang mudah gelisah dengan hal-hal seperti itu berpotensi tertipu untuk mengklik salah satu tautan jahat. Misalnya, serangan Email Phising secara hipotetis dapat meminta korban untuk memutakhirkan akun mereka agar tidak segera dinonaktifkan. Jika pengguna tidak berhati-hati, mereka dapat mengambil risiko mengklik tautan berbahaya.

Tinggalkan Balasan